Niccolo Machiavelli Guru Politik Para Diktator Dunia yang Dikutuk Para Filusuf

  • Bagikan
banner 728x90

Sriwijayatimes.id – Bagi politikus atau orang yang terjun ke dunia politik, nama Niccolo Machiavelli cukup akrab sebagai rujukan. Filsuf asal Italia ini terkenal karena sarannya yang lugas bahwa seorang penguasa yang ingin memelihara dan meningkatkan kekuatannya harus menggunakan cara-cara curang, licik, dan kebohongan. Semua itu dikombinasikan dengan penggunaan kekerasan yang bengis.

Karya Machiavelli lah yang membuat ia dikecam dan dicela banyak orang sebagai bajingan tak bermoral. Tapi, sebagian filsuf memuji dia sebagai seorang realis yang keras kepala dan berani menggambarkan dunia kekuasaan dan politik yang terjadi saat itu di Italia.

Niccolo Machiavelli dilahirkan pada 3 Mei 1469 di Florence. Ia merupakan anak dari Bernardo di Niccolo Machiavelli, seorang pengencara dari keluarga terpandang dan kaya raya. Tumbuh menjadi anak muda yang ahli dalam bahasa latin dan retorika, Niccolo Machiavelli bekerja sebagai pejabat di kantor arsip pemerintah Firenze.

Namun sayang, saat itu Italia sedang terpecah belah menjadi beberapa kerajaan kecil yang dikuasai keluarga. Florence saat itu dikuasai keluarga Medici yang dipimpin Lorenzo Magnificent. Tetapi, Lorenzo meninggal pada tahun 1492 dan beberapa tahun kemudian keluarga Medici diusir dari Florance. Florance kemudian berubah menjadi Republik dan pada tahun 1492 Machiavelli yang berusia 22 tahun tahun diangkat menjadi pejabat tinggi sipil.

Machiavelli diberi tugas untuk menyelesaikan misi militer oleh Ketua Kantor Arsip Umum, Piero Soderini. Adapun misi yang ia jalankan diantaranya menyerang putra dari Paus Alexander VI, Cesare Borgia, menyerbu Kaisar Roma Suci Maximilian I, hingga melakukan gencatan senjata dengan Pisa pada tahun 1509.

Ketertarikan Machiavelli dalam politik diawali karena kerisauan dia melihat situasi dan kondisi Italia yang saat itu terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang dikuasai keluarga. Dan ini berbanding terbalik dengan negara-negara di Eropa saat itu seperti Inggris, Prancis dan Spanyol yang saat itu dikenal karena militer dan kekuasaannya yang kuat sekali. Tak mengherankan Italia saat itu lemah secara negara walau budayanya menonjol.

Machiavelli tinggal di Florance yang diperintah oleh penguasa Medici yang terkenal, Lorenzo Magnificent. Tetapi, Lorenzo meninggal pada tahun 1492 dan beberapa tahun kemudian keluarga Medici diusir dari Florance. Florance kemudian berubah menjadi Republik dan pada tahun 1492 Machiavelli yang berusia 22 tahun tahun diangkat menjadi pejabat tinggi sipil.

Pada tahun 1512, keluarga Medici kembali berkuasa di Florance. Pemerintahan Republik digulingkan dan sejumlah pejabatnya ditangkap. Salah satu yang diincar oleh keluarga Medici adalah Machiavelli. Ia dipecat dari jabatannya dan ditangkap dengan tuduhan bersekongkol untuk menggulingkan penguasa Medici yang baru.

Machiavelli kemudian dipenjara. Namun ia kemudian dibebaskan dan Machiavelli kemudian pindah ke San Casciano.

Selama empat belas tahun mengasingkan diri di San Casciano, Machiavelli menulis beberapa buku diantaranya yang paling terkenal The Prince (ditulis pada 1513) dan Discourse Upon the First Ten Books of Titus Livius. Karyanya yang lain adalah The Art of The War, History of Florance dan La Magdragola (sebuah naskah drama). Tetapi, ketenarannya terutama disebabkan oleh The Prince. Sebuah karya paling brilian dan paling mudah dibaca.

The Prince dianggap sebagai sebuah buku panduan praktis bagi penguasa. Pandangan dasar buku ini adalah dalam meraih sukses, seoarang penguasa harus mengabaikan moral sama sekali dan bergantung sepenuhnya pada kekuatan dan kelicikan. Machiavelli menggarisbawahi pentingnya sebuah negara dipersenjatai dengan baik diatas segala-galanya.

Dia menekankan bahwa hanya tentara yang dibentuk oleh wajib militter dari warga negaralah yang bisa diandalkan, karena berdasarkan pengalamannya sebuah negara yang bergantung pada tentara bayaran, atau tergantung terhadap tentara dari negara lain, akan sangat lemah dan berbahaya.

The Prince sering disebut sebagai “buku pegangan bagi para diktator”. Karier Niccolo Machiavelli dan tulisannya yang lain menunjukan bahwa secara umum dia condong kepada pemerintahan republik ketimbang ketdiktatoran. Tetapi, dia takut kelemahan politisi dan militer Italia, dan dia berharap ada penguasa yang kuat mempersatukan negara itu dan mengusir para tentara pendatang asing yang jutru merusak. Karya kontroversialnya yang berjudul Il Principe ternyata dimaksudkan untuk membujuk keluarga Medici agar mau berkuasa di Italia.

Melihat kondisi italia di zaman itu yang dikuasai oleh Spanyol dan Prancis, ia membujuk keluarga Medici untuk berkuasa dan mengembalikan kejayaan Italia yang pada saat itu harus tunduk pada asing. Dalam bab terakhir Il Principe yang berjudul “Saran Untuk Membebaskan Italia dari Bangsa Barbar ” berisikan bujukan dan harapannya kepada keluarga Medici untuk membawa Italia kembali berjaya. Namun pada akhirnya tujuannya itu tidak menghasilkan apa pun.

Beberapa filsuf dengan semangat mencela Machiavelli. Selama bertahun-tahun, dia dikutuk sebagai titisan iblis, dan namanya disamakan dengan muka dua dan licik.

Karya Machiavelli pun akhirnya menjadi kitab suci para penguasa. Diktator Italia, Benito Musollini merupakan salah satu pemimpin politik yang memuji Machiavelli secara terbuka. Selain itu Kaisar Prancis, Napolean, tidur dengan buku Machiavelli dibalik bantalnya. Begitu juga dengan Hitler dan Stalin.

Setelah tujuannya gagal untuk membujuk Medici, Machiavelli terus menulis dan menyendiri hingga akhir kehidupannya. Ia meninggal pada tanggal 21 Juni 1527 di Florence. Tahun kematiannya bersamaan dengan datangnya pasukan Prancis Charles V yang menyerang Roma.

(bm)

  • Bagikan